Langsung ke konten utama

Postingan

Yang Baru dari Tuhan

Yang Baru dari Tuhan Saat aku tersesat Aku tidak dapat melihat sekelilingku Gelap … Hitam … Semua tidak terlihat Harapan yang dulu terang di depanku Kini menjadi hampa dan kosong Sejumlah cara yang dulu terkumpul Kini menjadi serpihan debu yang tersimpan Walau begitu Takkan ada seorangpun yang dapat menolongku Atau memberi harapan padaku Karena ku tahu bahwa mereka tidak mampu Di saat yang hampir bersamaan Ada suatu harapan baru Muncul, tiba di depanku Walau kecil kemungkinan untukku dapat meraihnya Harapan itu langka Tidak semua orang mendapatkannya Karena itu ku’kan berusaha menggapainya Meski ku tahu sangat sulit untuk memperolehnya

orang kota yang (n)deso

Jauh dari Alam = Kasihan Aku pernah berkhayal kalau suatu saat nanti aku menjadi orang desa, di mana setiap pagi pergi bertani, bercocok tanam, dan melakukan hal yang menyenangkan (berbeda dari biasanya). Aku tahu bahwa itu semua melelahkan tapi setidaknya mereka (warga desa) lebih dekat dengan alam. Sering aku berkata bahwa aku cinta alam, namun sampai sekarang tidak ada bukti nyata dari dalam diriku. Pernah kubayangkan setiap pagi udara sejuk itu masuk ke dalam tubuhku, sinar matahari menjadi satu-satunya penerang yang terterang dalam hidupku, air yang jernih itu mengalir di dalam dan di luar tubuhku, dan makhluk-makhluk kecil menjadi makhluk yang tidak menggangguku. Terkadang aku merasa bosan dengan hidup ini, karena aku kurang mensyukuri pemberian ini. Banyak dari mereka berkata bahwa aku sungguh bersyukur mamiliki hidup seperti ini dan tidak seperti mereka yang mempertanyakan hari esok. Akan tetapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan … Aku hanyalah warga kota yang...

Kota Jakarta

Kota Jakarta   Ternyata, kota Jakarta tidak seburuk yang kubayangkan, namun tidak juga seindah yang kuimpi kan. Bukan hanya pemandangannya tapi juga transportasinya, tempat-tempat kunjungannya, maupun masyarakat yang tinggal di dalamnya. Tumbuhan hijau yang banyak dan tertata rapih, kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan yang mulus, halus dan indah, pejalan kaki yang menyeberang dengan tertib, pengemudi yang mematuhi peraturan lalu lintas ….. itulah sebagian kecil dari impianku untuk kota Jakarta. Memang begitu mudah untuk mengutarakan pikiran ini, namun begitu sulit untuk melaksanakannya. Aku sempat berpikir, apa yang dapat kulakukan untuk kota Jakarta – Indonesia – yang kucintai ini? Mungkinkah saat ku besar nanti aku menjadi seorang sastrawan yang terus menulis? Atau mungkin, di siang hari yang terik aku sendiri yang menyingkirkan dedauan kering itu? Atau mungkin aku adalah salah seorang yang berpartisipasi dalam pembersihan kali? Aku tau, walaupun aku bisa tapi belum...

Menangis

MENANGIS Terkadang ... Di saat aku marah, kecewa Aku memilih untuk menangis Menangis dan menangis ... Menangis adalah sebuah luapan emosi Luapan emosi yang sungguh melegakkan Yang tidak dapat tergantikan Karena menangis adalah sebuah anugerah Menangis bukanlah hobiku Tapi aku suka menangis Karena menangis mewakili segala kata Kata-kata yang tak dapat keluar dari mulutku Ketika busur panah menggores jiwaku Luka dalam timbul di hatiku Saat itulah aku mulai memilih Memilih untuk menangis dari pada bersumpah serapah

Kesetiaan yang tiada hentinya

KESESATAN YANG TIADA HENTINYA Begitu banyak penyesatan dalam dunia ini Di manakah kebenaran itu? Ada yang mengatakan ini benar dan yang lain mengatakan ini salah Manakah yang harus kupercaya? Terlalu sulit untuk melihat dan mencari kebenaran itu Karena sebenarnya diriku sendiri pun menolaknya Akan tetapi ... Semakin aku menolak semakin besar pula aku mencari Aku sedih melihat mereka yang tersesat Aku marah kepada mereka yang menyesatkan Namun apakah diriku bukanlah penyesat? Apakah aku layak marah terhadap mereka? Bagaimana dengan mereka para penyesat? Mereka sama denganku karena kami sama-sama manusia Akan tetapi mereka selalu menganggap diri layak Tak pernah ada sepatah katapun yang menandakan mereka tidak layak bagi dirinya sendiri Wahai para penyesat!  Sadarlah! Sadarlah!  Kau dan aku sama! Apakah dalam dirimu tak 'da kasih terhadap mereka yang disesatkan oleh ulahmu? Lebih baik berdiam diri dari pada menyesatkan orang! Kare...

Kisah seorang pelukis

Kisah Seorang Pelukis Suatu hari seorang pelukis terkenal sedang menyelesaikan lukisan terbaiknya dan rencananya lukisan itu akan dipamerkan pada saat pernikahan Putri Kerajaan. Ketika ia berhasil menyelesaikan lukisannya ia sangat senang dan terus memandangi lukisannya yang berukuran 2x8 meter. Sambil memandangi, ia berjalan mundur, dan ketika berjalan mundur, ia tidak melihat ke belakang. Ia terus berjalan mundur dan dibelakangnya adalah ujung dari gedung tersebut yang sangat tinggi, hanya tersisa satu langkah lagi maka ia akan mengakhiri hidupnya.  Seseorang melihat kejadian tersebut dan bermaksud untuk berteriak memperingatkan pelukis tersebut. Akan tetapi, ia tidak jadi berteriak karena ia khawatir jika ia berteriak si pelukis justru akan kaget dan terjatuh. Kemudian orang itu segera mengambil kuas dan cat yang ada di depan lukisan tersebut dan segera mencoret-coret lukisan sang pelukis hingga akhirnya lukisannya rusak. Tentu saja pelukis itu sangat marah dan berjalan m...

Ujian terakhir di SMA

The Last but not The End Usai sudah Ujian Nasional di tingkat SMP, rasanya sudah bebas dan tidak ada lagi "beban" yang harus ditanggung. Akan tetapi, apakah benar-benar sudah bebas? Memang sih hari ini yang terakhir tapi bukan berarti berakhir...  "Bebas! Bebas! Akhirnya selesai juga!!" ... Inilah kalimat yang paling sering kita ucapkan setelah UN selesai, dan saat mengucapkan kalimat ini biasanya kita merasa puas dan gembira. Justru rasa gembira seperti inilah yang sering membuat kita lupa akan 1 hal, yaitu: UN memang sudah selesai tetapi bukan akhir dan bukan kebebasan dari hal yang lain. Mengapa begitu? Ya, karena saat kita menyelesaikan UN itu berarti kita sudah berhasil menyelesaikan sesuatu di tingkat SMP dan itu juga berarti bahwa kita harus menuju dan berjuang di jenjang selanjutnya. Jadi, berakhirnya UN bukan berarti yang terakhir melainkan awal baru dalam tingkat yang lebih tinggi.  Tetaplah Berjuang !   加 油 !