Langsung ke konten utama

Yang Baru dari Tuhan

Yang Baru dari Tuhan
Saat aku tersesat
Aku tidak dapat melihat sekelilingku
Gelap … Hitam …
Semua tidak terlihat

Harapan yang dulu terang di depanku
Kini menjadi hampa dan kosong
Sejumlah cara yang dulu terkumpul
Kini menjadi serpihan debu yang tersimpan

Walau begitu
Takkan ada seorangpun yang dapat menolongku
Atau memberi harapan padaku
Karena ku tahu bahwa mereka tidak mampu

Di saat yang hampir bersamaan
Ada suatu harapan baru
Muncul, tiba di depanku
Walau kecil kemungkinan untukku dapat meraihnya

Harapan itu langka
Tidak semua orang mendapatkannya
Karena itu ku’kan berusaha menggapainya
Meski ku tahu sangat sulit untuk memperolehnya

Komentar

  1. Sejumlah cara yang dulu terkumpul
    Kini menjadi serpihan debu yang tersimpan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Jakarta

Kota Jakarta   Ternyata, kota Jakarta tidak seburuk yang kubayangkan, namun tidak juga seindah yang kuimpi kan. Bukan hanya pemandangannya tapi juga transportasinya, tempat-tempat kunjungannya, maupun masyarakat yang tinggal di dalamnya. Tumbuhan hijau yang banyak dan tertata rapih, kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan yang mulus, halus dan indah, pejalan kaki yang menyeberang dengan tertib, pengemudi yang mematuhi peraturan lalu lintas ….. itulah sebagian kecil dari impianku untuk kota Jakarta. Memang begitu mudah untuk mengutarakan pikiran ini, namun begitu sulit untuk melaksanakannya. Aku sempat berpikir, apa yang dapat kulakukan untuk kota Jakarta – Indonesia – yang kucintai ini? Mungkinkah saat ku besar nanti aku menjadi seorang sastrawan yang terus menulis? Atau mungkin, di siang hari yang terik aku sendiri yang menyingkirkan dedauan kering itu? Atau mungkin aku adalah salah seorang yang berpartisipasi dalam pembersihan kali? Aku tau, walaupun aku bisa tapi belum...

Jakarta + hujan deras = ...

Sebuah peristiwa yang sulit membuatku belajar banyak hal... Senin, 9 Februari 2015                Sebuah peristiwa 2 tahun yang lalu pun terulang. Hujan deras kembali mengguyur kota Jakarta yang ramai ini. Jalan raya yang awalnya kering, kini terlihat seperti sungai yang mengalir. Sungai itu tidak lain adalah banjir. Ketika banjir, aku bisa melihat berbagai macam ekspresi orang. Ada yang senang, ada pula yang menggerutu, tapi ada juga yang tetap bersyukur. Peristiwa ini juga membuatku bisa belajar dan merefleksikan banyak hal...                Pagi itu aku masuk sekolah. Hujan deras terus turun membasahi jalan. Awalnya, aku mengira bahwa hanya sedikit dari kami yang masuk, tapi ternyata dugaanku salah. Pelajaran berlalu seperti biasa. Namun, ketika hujan tidak henti-hentinya turun dengan deras, banyak dari kami yang bersemangat untuk pulang...