Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Yang Baru dari Tuhan

Yang Baru dari Tuhan Saat aku tersesat Aku tidak dapat melihat sekelilingku Gelap … Hitam … Semua tidak terlihat Harapan yang dulu terang di depanku Kini menjadi hampa dan kosong Sejumlah cara yang dulu terkumpul Kini menjadi serpihan debu yang tersimpan Walau begitu Takkan ada seorangpun yang dapat menolongku Atau memberi harapan padaku Karena ku tahu bahwa mereka tidak mampu Di saat yang hampir bersamaan Ada suatu harapan baru Muncul, tiba di depanku Walau kecil kemungkinan untukku dapat meraihnya Harapan itu langka Tidak semua orang mendapatkannya Karena itu ku’kan berusaha menggapainya Meski ku tahu sangat sulit untuk memperolehnya

Menangis

MENANGIS Terkadang ... Di saat aku marah, kecewa Aku memilih untuk menangis Menangis dan menangis ... Menangis adalah sebuah luapan emosi Luapan emosi yang sungguh melegakkan Yang tidak dapat tergantikan Karena menangis adalah sebuah anugerah Menangis bukanlah hobiku Tapi aku suka menangis Karena menangis mewakili segala kata Kata-kata yang tak dapat keluar dari mulutku Ketika busur panah menggores jiwaku Luka dalam timbul di hatiku Saat itulah aku mulai memilih Memilih untuk menangis dari pada bersumpah serapah

Kesetiaan yang tiada hentinya

KESESATAN YANG TIADA HENTINYA Begitu banyak penyesatan dalam dunia ini Di manakah kebenaran itu? Ada yang mengatakan ini benar dan yang lain mengatakan ini salah Manakah yang harus kupercaya? Terlalu sulit untuk melihat dan mencari kebenaran itu Karena sebenarnya diriku sendiri pun menolaknya Akan tetapi ... Semakin aku menolak semakin besar pula aku mencari Aku sedih melihat mereka yang tersesat Aku marah kepada mereka yang menyesatkan Namun apakah diriku bukanlah penyesat? Apakah aku layak marah terhadap mereka? Bagaimana dengan mereka para penyesat? Mereka sama denganku karena kami sama-sama manusia Akan tetapi mereka selalu menganggap diri layak Tak pernah ada sepatah katapun yang menandakan mereka tidak layak bagi dirinya sendiri Wahai para penyesat!  Sadarlah! Sadarlah!  Kau dan aku sama! Apakah dalam dirimu tak 'da kasih terhadap mereka yang disesatkan oleh ulahmu? Lebih baik berdiam diri dari pada menyesatkan orang! Kare...

Air Putih

Air Putih   Baru Kusadari ternyata . . .  Air Putih itu nikmat Tidak ada yang dapat menggantikannya Air putih itu indah Tidak ada yang dapat menyainginya Meskipun beragam minuman muncul Tetapi tidak ada yang sejernih dirinya Meskipun banyak orang bosan meneguknya Tetapi mereka tetap membutuhkannya Jika tidak ada dirinya Bagaimana nasib kehidupan ini? Jika tidak ada dirinya Bagaimana mungkin kubuat puisi ini?