Siapa yang sangka aku akan bekerja di luar kota, sekali lagi merantau jauh dari orang tua?
Katanya, menulis tanpa berpikir dan cukup mencurahkan semua isi kepala di tulisan itu bisa melegakan, so here I am… sekarang lagi di Philips cafe surabaya, aku hari ini ikut kebaktian umum 2, biasanya setelah KU2 aku makan bersama temanku tapi hari ini aku uda makan duluan. Ci Vanessa baru dari citra bersama kak Silvia dan kak Winda, ce Myrna ada rapat, so here I am alone.
Aku suka sendiri, karena ketika sendiri aku bisa lebih fokus pada apa yang dikerjakan tanpa perlu berbasa-basi dengan orang lain, walaupun kalau terlalu lama sendiri berasa sepi juga sih… well, kemarin cukup menyenangkan karena aku visit BBW di surabaya convention hall (at PTC), I surely will miss my moment and days living in Surabaya. Ga terasa, 1 bulan lagi bakal balik ke Jakarta, masa merantau telah selesai untuk saat ini.
7 hari lagi aku uda berusia 26 tahun, sungguh ga berasa… 1,5 tahun aku di surabaya… Tuhan yang memimpin jalan hidupku di usia 25 tahun, saat quarter life crisis strike my life deeply, Tuhan memimpin setiap langkah pergumulanku. Tau dari mana Tuhan pimpin, emangnya uda selesai struggles nya? Belom kok, masih struggling, tapi aku bisa merasakan pimpinan dan anugerahNya melalui simple, small happiness in my daily life. Mulai dari Tuhan berikan teman2 yang suportif dan jujur (seperti ce Myrna dan ci Vanessa, ce Sherly, ko Lukas), anak2 murid yang nurut dan manis (Joy, Kiev, Derrik, Nevano, dll), dan juga teman kerja yang baik (Ls Desy, dan teman2 Single Subject).
Yup, tahun lalu di bulan Januari 2024, aku datang ke Surabaya dengan 1 simple mind, yaitu: aku datang ke kota ini untuk mencari pengalaman, rasanya keren untuk bisa ngajar di sekolah, ada suatu tantangan yang melebihi cuman sekadar jadi guru les. My pride shallow me deeply, especially waktu di HALO MEC, rasanya kerjaan stagnan dan gitu2 aja, that’s why aku milih untuk pindah. WHY Surabaya?? Emang Jakarta ga ada sekolah bagus? Bukan ga ada, lebih tepatnya ga dibuka jalannya, dan mau lari dari kondisi rumah yang sangat stressful. Plus aku emang mau coba kerja di international school, alasannya simple: karena gaji dan culture work. Kenapa ga SKC? Simply ga mau mencampuri “pelayanan” dan “bekerja”, iykyk.
Anyway, penyertaan Tuhan bukan hanya dalam hal yang baik, lancar, dan enak dalam hidup… Ia juga berbicara dan memberiku life lesson yang penting pol melalui daily struggles dan keseharianku, terutama dalam bekerja di sekolahan, kekuatan untuk menghadapi teman gereja (ce Natasha), dan struggle menghadapi orang tua di Jakarta. Bukan berarti mereka orang jahat, karena dunia ga sehitam putih itu, tapi karena beberapa hal yang membuat diriku risih dengan sikap dan personality mereka.
Mulai dari murid sekolah yang kelakuannya luar biasa abstrak dan susah diatur, classroom management yang kacau balau, sampai sekarang pun masih struggling.. But the good news is: Tuhan pimpin! Bukan mengangkat all struggle and problem at once, melainkan Tuhan membuat aku belajar dan bertumbuh untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, punya hati lembut tapi sikap yang tegas, berani marah sama murid tanpa merasa guilty feeling, perasaan ketika marah sampai membentak bukan karena aku benci mereka, tapi karena aku sayang mereka dan mau mereka lebih baik.
Teman gereja (ce Natasha), yang awalnya terlihat sangaaattt friendly, ternyata ada sisi lainnya. Dia orang yang melankolis, suka cerita, dan ramah sama orang baru. Seiring berjalannya relasi baru paham dia orang yang seperti apa. Sukanya didengar bukan mendengarkan, selalu bahas soal percintaan dia (jomblo sampai umur 33 tahun dan selalu galau tentang jodoh), suka curhat tapi ga mau terima kritik atau masukan orang, denial sama kritikan, ga suka bersih-bersih, malas banget omg… terus juga cuek POL (ga peduli, ga ngabarin kalau dia mau pergi atau gimana), dan suka telatan, serta omongannya tidak konsisten. Cape kan? Kalau ketemu seminggu sekali oke, masalahnya ini satu atap jeng jeng…
Semenjak ketemu ci Vanessa tahun ini, aku belajar banget tentang konsep kehidupan. Kehidupan yang tidak selalu manis dan berwarna, kehidupan yang isinya juga ada tangisan, kesakitan, sorrow and grief, and it’s okay, that’s life :)
Belajar untuk menerima keterbatasan kita, belajar toleransi sama sikap orang lain, belajar untuk berani mengekspresikan emosi, belajar untuk speak up dan set boundaries, belajar untuk menjalani hari2 yang sendu, belajar untuk bersyukur dan melalui proses yang ada. Belajar untuk tidak disukai orang lain dan its okay. Mereka ga suka kita bukan berarti kita jahat, melainkan karena beda pandangan. Perbedaan itu gapapa banget!
Ajaibnya, inilah yang aku pelajari selama merantau di Surabaya.
Masalahku dengan orangtua, masalah sehari-hari bukanlah hal yang terberat.
Persoalan pasangan hidup, perjalanan mencari karier dan kemampuan untuk menunjang kebutuhan hidup sendiri, menjadi individu yang bebas, itu semua perlu proses.
Tuhan mengajarkan aku untuk melalui semua proses itu bersama-Nya, dan percayalah Dia yang akan provide.
“God will provide.. Strength for the journey, bread for the morning, and shelter for the night… God will provide hope for the weary, God will sustain me all the days of my life” - God will Provide song by Mark Patterson.
Ternyata benar, setelah menulis rasanya lebih lega… jauh lebih lega!
Praise the LORD :)
Komentar
Posting Komentar