Langsung ke konten utama

orang kota yang (n)deso

Jauh dari Alam = Kasihan

Aku pernah berkhayal kalau suatu saat nanti aku menjadi orang desa, di mana setiap pagi pergi bertani, bercocok tanam, dan melakukan hal yang menyenangkan (berbeda dari biasanya). Aku tahu bahwa itu semua melelahkan tapi setidaknya mereka (warga desa) lebih dekat dengan alam. Sering aku berkata bahwa aku cinta alam, namun sampai sekarang tidak ada bukti nyata dari dalam diriku. Pernah kubayangkan setiap pagi udara sejuk itu masuk ke dalam tubuhku, sinar matahari menjadi satu-satunya penerang yang terterang dalam hidupku, air yang jernih itu mengalir di dalam dan di luar tubuhku, dan makhluk-makhluk kecil menjadi makhluk yang tidak menggangguku. Terkadang aku merasa bosan dengan hidup ini, karena aku kurang mensyukuri pemberian ini. Banyak dari mereka berkata bahwa aku sungguh bersyukur mamiliki hidup seperti ini dan tidak seperti mereka yang mempertanyakan hari esok. Akan tetapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan … Aku hanyalah warga kota yang terlalu jauh dari alam, namun aku mencoba untuk memahami dan ‘mengenal’ alam yang sungguh indah ini, dan belajar untuk mensyukuri atas apa yang ada sekarang … 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Jakarta

Kota Jakarta   Ternyata, kota Jakarta tidak seburuk yang kubayangkan, namun tidak juga seindah yang kuimpi kan. Bukan hanya pemandangannya tapi juga transportasinya, tempat-tempat kunjungannya, maupun masyarakat yang tinggal di dalamnya. Tumbuhan hijau yang banyak dan tertata rapih, kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan yang mulus, halus dan indah, pejalan kaki yang menyeberang dengan tertib, pengemudi yang mematuhi peraturan lalu lintas ….. itulah sebagian kecil dari impianku untuk kota Jakarta. Memang begitu mudah untuk mengutarakan pikiran ini, namun begitu sulit untuk melaksanakannya. Aku sempat berpikir, apa yang dapat kulakukan untuk kota Jakarta – Indonesia – yang kucintai ini? Mungkinkah saat ku besar nanti aku menjadi seorang sastrawan yang terus menulis? Atau mungkin, di siang hari yang terik aku sendiri yang menyingkirkan dedauan kering itu? Atau mungkin aku adalah salah seorang yang berpartisipasi dalam pembersihan kali? Aku tau, walaupun aku bisa tapi belum...

Jakarta + hujan deras = ...

Sebuah peristiwa yang sulit membuatku belajar banyak hal... Senin, 9 Februari 2015                Sebuah peristiwa 2 tahun yang lalu pun terulang. Hujan deras kembali mengguyur kota Jakarta yang ramai ini. Jalan raya yang awalnya kering, kini terlihat seperti sungai yang mengalir. Sungai itu tidak lain adalah banjir. Ketika banjir, aku bisa melihat berbagai macam ekspresi orang. Ada yang senang, ada pula yang menggerutu, tapi ada juga yang tetap bersyukur. Peristiwa ini juga membuatku bisa belajar dan merefleksikan banyak hal...                Pagi itu aku masuk sekolah. Hujan deras terus turun membasahi jalan. Awalnya, aku mengira bahwa hanya sedikit dari kami yang masuk, tapi ternyata dugaanku salah. Pelajaran berlalu seperti biasa. Namun, ketika hujan tidak henti-hentinya turun dengan deras, banyak dari kami yang bersemangat untuk pulang...

Yang Baru dari Tuhan

Yang Baru dari Tuhan Saat aku tersesat Aku tidak dapat melihat sekelilingku Gelap … Hitam … Semua tidak terlihat Harapan yang dulu terang di depanku Kini menjadi hampa dan kosong Sejumlah cara yang dulu terkumpul Kini menjadi serpihan debu yang tersimpan Walau begitu Takkan ada seorangpun yang dapat menolongku Atau memberi harapan padaku Karena ku tahu bahwa mereka tidak mampu Di saat yang hampir bersamaan Ada suatu harapan baru Muncul, tiba di depanku Walau kecil kemungkinan untukku dapat meraihnya Harapan itu langka Tidak semua orang mendapatkannya Karena itu ku’kan berusaha menggapainya Meski ku tahu sangat sulit untuk memperolehnya