Langsung ke konten utama
keluhan

(pelajar)
Duh, tugas lagi tugas lagi, demen banget sih guru kasih tugas. Gatau apa ya satu minggu bukan cuman pelajaran dia, masih banyak tugas lain yang harus dikerjain. Numpuk pula... 

(pekerja)
Huuuftt... lembur lagi hari ini, padahal kemaren bilangnya minggu ini ga akan lembur, eh... tau2nya si bos tambahin kerjaan baru, katanya urgent besok pagi harus uda kelar... 

(pengangguran)
Lima, enam, tujuh... uda lamaran kedelapan ni.. sampe kapan ditolak terus... huftt hidup-hidup, kerja buat sesuap nasi aja susah banget deh ya 

(bos) 
Malam ini ada meeting, besok pagi uda harus take off keluar kota, lusa balik lagi untuk meeting sama clien. kapan ya hari pensiun tiba?

(orang pensiun)
Teringat masa muda ketika tenaga masih banyak, waktu masih ada, sekarang berjalanpun aku sulit... memang tinggal tunggu hari saja ...

***
Ternyata, hidup manusia itu selalu dipenuhi keluhan ya, di posisi manapun, kita seringkali mengeluh dan merasa tidak puas. Kalau ada satu hari untuk mengabulkan satu permintaan, kira-kira apa ya permintaan yang akan kamu minta?

Memang, setiap orang punya kesibukannya masing-masing, semua serba hectic dan terkadang unpredictable. Namun, kita punya pilihan menentukan pilihan yang mana. Ada yang memilih sibuk untuk kepentingan diri sendiri, ada yang juga disibukkan dengan kepentingan orang lain. Dari kedua kesibukan itu, terkadang kesibukan yang memedulikan orang lain tidak selelah kesibukan untuk diri sendiri. Waktu kita sibuk untuk dia, jangan lupa kalau kita melakukannya karena kita mengasihi dia. 

Sesibuk apapun manusia, tetap utamakan relasi. Seperti kata pepatah, manusia adalah makhluk sosial. Jadi sesibuk apapun kita, sebanyak apapun keluhan kita, ternyata keberadaan orang lain mampu menghibur hari-hari kita.

Kalau aku diberi kesempatan untuk memohon satu permintaan, aku berharap manusia bisa belajar untuk lebih bersyukur dan mengingat sesamanya. Tidak hanya berfokus pada hidup masing-masing, tapi juga kepada hidup sesamanya. Bukankah akan lebih indah begitu?

Zhongli, 19 November 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Jakarta

Kota Jakarta   Ternyata, kota Jakarta tidak seburuk yang kubayangkan, namun tidak juga seindah yang kuimpi kan. Bukan hanya pemandangannya tapi juga transportasinya, tempat-tempat kunjungannya, maupun masyarakat yang tinggal di dalamnya. Tumbuhan hijau yang banyak dan tertata rapih, kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan yang mulus, halus dan indah, pejalan kaki yang menyeberang dengan tertib, pengemudi yang mematuhi peraturan lalu lintas ….. itulah sebagian kecil dari impianku untuk kota Jakarta. Memang begitu mudah untuk mengutarakan pikiran ini, namun begitu sulit untuk melaksanakannya. Aku sempat berpikir, apa yang dapat kulakukan untuk kota Jakarta – Indonesia – yang kucintai ini? Mungkinkah saat ku besar nanti aku menjadi seorang sastrawan yang terus menulis? Atau mungkin, di siang hari yang terik aku sendiri yang menyingkirkan dedauan kering itu? Atau mungkin aku adalah salah seorang yang berpartisipasi dalam pembersihan kali? Aku tau, walaupun aku bisa tapi belum...

Jakarta + hujan deras = ...

Sebuah peristiwa yang sulit membuatku belajar banyak hal... Senin, 9 Februari 2015                Sebuah peristiwa 2 tahun yang lalu pun terulang. Hujan deras kembali mengguyur kota Jakarta yang ramai ini. Jalan raya yang awalnya kering, kini terlihat seperti sungai yang mengalir. Sungai itu tidak lain adalah banjir. Ketika banjir, aku bisa melihat berbagai macam ekspresi orang. Ada yang senang, ada pula yang menggerutu, tapi ada juga yang tetap bersyukur. Peristiwa ini juga membuatku bisa belajar dan merefleksikan banyak hal...                Pagi itu aku masuk sekolah. Hujan deras terus turun membasahi jalan. Awalnya, aku mengira bahwa hanya sedikit dari kami yang masuk, tapi ternyata dugaanku salah. Pelajaran berlalu seperti biasa. Namun, ketika hujan tidak henti-hentinya turun dengan deras, banyak dari kami yang bersemangat untuk pulang...

Yang Baru dari Tuhan

Yang Baru dari Tuhan Saat aku tersesat Aku tidak dapat melihat sekelilingku Gelap … Hitam … Semua tidak terlihat Harapan yang dulu terang di depanku Kini menjadi hampa dan kosong Sejumlah cara yang dulu terkumpul Kini menjadi serpihan debu yang tersimpan Walau begitu Takkan ada seorangpun yang dapat menolongku Atau memberi harapan padaku Karena ku tahu bahwa mereka tidak mampu Di saat yang hampir bersamaan Ada suatu harapan baru Muncul, tiba di depanku Walau kecil kemungkinan untukku dapat meraihnya Harapan itu langka Tidak semua orang mendapatkannya Karena itu ku’kan berusaha menggapainya Meski ku tahu sangat sulit untuk memperolehnya