Langsung ke konten utama

Cerita di Akhir bulan...

Halo, ternyata sudah 2 bulan semenjak terakhir aku menulis di blog ini. Dalam dua bulan terakhir ini, banyak sekali kejadian yang terjadi dan rasanya hari berlalu dengan begitu cepat. 

Kok bisa?
Nah, jadi gini ceritanya... 

Di tulisan yang lalu, aku bercerita tentang penyakit yang aku derita di awal tahun ini, ternyata setelah diperiksa lagi, dokter berkata bahwa aku kena neuropati (penyakit saraf yang tidak diketahui secara pasti apa penyebabnya). Pada kasusku, salah satu penyebabnya adalah sering melipat kaki dan jarang berolahraga, ditambah dengan kondisi saraf tubuhku yang katanya lebih lemah daripada orang pada umumnya. Yup, sudah 2 bulan lebih semenjak pertama kali aku berkenalan dengan penyakit ini.

Merupakan pengalaman yang unik dan menjengkelkan, tapi juga memberikan pembelajaran dalam banyak hal, terutama hal-hal tentang kehidupan. Di awal jenjang kesakitan ini, aku sering bertanya kenapa? (kenapa bisa aku kena penyakit aneh kayak gini, padahal aku merasa pola hidupku beres2 aja; dan lebih sering aku bertanya-tanya: kenapa sih harus ada penderitaan di dunia ini, kenapa manusia harus menderita?). Memang kelihatannya seperti pertanyaan protes, tapi dibalik semuanya itu aku benar-benar wondering, why?

Akupun memutuskan untuk membaca buku Philip Yancey bejudul Where is God when it hurts? Di bukunya, ia berkata bahwa penderitaan ada karena tujuan tertentu. Mengambil contoh orang yang menderita leprosy (penyakit yang sensor sakitnya sudah mati sehingga orang yang menderita leprosy seringkali membahayakan dirinya tanpa sengaja, karena sensor rasa sakitnya sudah padam). Uniknya, orang normal seringkali ingin memusnahkan rasa sakit dari dirinya, tapi justru orang yang menderita leprosy merindukan kembalinya rasa sakit itu, setidaknya supaya mereka tidak perlu aware 24 jam akan keadaan sekitarnya, supaya ada perasaan lega ketika beraktivitas tanpa perlu khawatir jarinya luka terbakar ketika sedang memasak karena rasa sakit tidak ada dalam dirinya. Sungguh mengerikan... 

Ketika sakit, kita cenderung bertanya kenapa, why? 
Akupun bertanya seperti itu di awal aku sakit, tapi kembali lagi, aku flashback dan mengingat kisah Ayub. Di masa hidupnya ia sempat dicobai, diambil semua harta benda dan segala miliknya, bahkan kesehatannya sendiri. Namun, Ayub tidak menyalahkan Tuhan sedikitpun. Ia sempat bertanya-tanya, tapi tidak ada jawaban praktis dari Tuhan, justru Tuhan menjawabnya dengan proses. Kesabarannya diuji, begitupula dengan imannya, sampai di akhir kisah Tuhan memberikan jawaban. Ternyata, bukan pertanyaan "mengapa" yang ingin Tuhan dengar dalam doa kita melainkan pernyataan seperti God, I trust you, I'll follow You wherever You lead me, and I believe that You are my Lord. (simply just trust and obey...)

Terakhir, Yancey juga membahas persoalan "dimanakah Tuhan ketika kita menderita?". Seringkali kita merasa Tuhan jauh dan sedang pergi meninggalkan kita saat kita dalam keadaan susah dan menderita. Kita lupa kalau ternyata bukan Tuhan yang pergi tapi kita yang kurang percaya, kita yang kurang bergantung. Pada kenyataannya, Tuhan tidak pernah pergi dan Ia selalu ada dalam hati kita :) (Akupun lega membacanya, benar-benar memberikan kekuatan dan penghiburan)...

Tuhan itu baik banget, dan Dia benar-benar riil. Semakin banyak ujian yang aku hadapi, semakin aku merasa kalau Tuhan itu beneran ada... (You never truly understand until you experience it by yourself). Sumber kekuatan dan supportku selama aku sakit juga super melimpah, bahkan diluar ekspektasiku sendiri...

Pertama, ibuku datang ke Taiwan dan sudah dua bulan semenjak kedatangannya disini. Hari-hariku juga semakin berwarna dan ternyata peran ibu sangat berpengaruh dan penting dalam hidup seseorang. Bukan hanya itu, support dari teman-teman sekitar juga luarbiasa, aku ga pernah expect dapat feedback yang sangat amat positif. Terakhir, perawatan dan fasilitas di sini benar-benar memadai dan merupakan salah satu faktor penting yang mempercepat kesembuhanku. 

Ok, sekarang aku mau cerita tentang apa yang aku rasakan ketika sakit, dan jawaban yang aku dapatkan mengenai pertanyaanku "why?". Jawabannya sederhana yaitu trust and obey. Mungkin selama beberapa tahun ini, imanku naik turun dan tidak stabil, dan sepertinya ini jalan Tuhan untuk mengajarkanku berjalan dengan iman. Belajar untuk lebih humble menerima (menerima kondisi diri, menerima pemberian dan pertolongan orang lain, dan menerimanya dengan tulus, bukan karena pandangan bahwa menerima itu baik dan harus dilakukan). Jujur, being dependence ke orang lain itu bukan tipe aku banget (bukan maksudnya sombong, tapi aku seringkali merasa ga enak karena ngerepotin orang lain dan kecenderungan untuk melakukan semuanya sendiri). Namun, pengalaman sakit ini benar-benar membuat aku sadar dan belajar, bergantung pada orang lain itu indah, bahkan ada kalanya lebih indah daripada menyelesaikan semuanya sendiri. Mungkin selama ini aku kurang sabar dan sulit menerima (receive and give genuinely), dan aku belajar secara langsung bagaimana melakukannya, Thanks be to God!

Nah, salah satu support system aku juga adalah teman-teman dekatku. Dalam hidup kita ga pernah nyangka siapa yang akan dekat sama kita. Banyak teman baik tapi sangat sedikit yang akan menjadi sahabat dan mengerti kita apa adanya. In Fact, aku lumayan kaget karena aku bisa dapat kesempatan untuk kenal sama satu ibu ini, namanya bu Riana. Beliau mengajar sebagai dosen di Atmajaya Indonesia dan mengambil kuliah jenjang S3 di CYCU. Awal pertemuannya karena beliau mau belajar Chinese, dan kebetulan aku juga mau nyari murid untuk service hour aku. Awal kenal bu Riana ini rasanya ibu ini sangat kalem dan rasa kuriositasnya tinggi, tapi setelah kenal ternyata lebih dari itu hahaha... Ibu yang selalu ceria dan ga pantang menyerah, punya ambisi yang tinggi tapi kadang melelahkan dirinya sendiri, selalu membawa positive vibes saat kumpul-kumpul dan dalam masalah yang ia hadapi selalu tampak ceria, pantes aja mamiku panggil dia "ibu ceria" hahaha... Bukan hanya itu, aku kagum sama semangat hidupnya. Waktu denger ceritanya yang pernah sakit neuropati kayak aku, seketika aku melihat hari depan yang cerah. Akupun berpikir optimis setelah melihat bu Riana yang sekarang uda sehat dan sangat aktif. Aku percaya, di akhir tahun ini aku bisa berjalan normal lagi! Bukan hanya bu Riana, teman-temanku yang lain juga banyak yang perhatian, jujur ga pernah nyangka bakal ketemu orang-orang yang secare itu, sekali lagi, Tuhan itu super duper baik banget... 

Nah, sampai disini dulu ya ceritaku di bulan April ini. Sekarang kakiku sudah mulai bisa berjalan lebih jauh, memang masih sakit tapi aku harus semangat dan memaksakannya supaya kakiku ini ga manja. Seperti kata kitab Roma: 

"Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan."

Jadi... semangat terus yuk! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

keluhan (pelajar) Duh, tugas lagi tugas lagi, demen banget sih guru kasih tugas. Gatau apa ya satu minggu bukan cuman pelajaran dia, masih banyak tugas lain yang harus dikerjain. Numpuk pula...  (pekerja) Huuuftt... lembur lagi hari ini, padahal kemaren bilangnya minggu ini ga akan lembur, eh... tau2nya si bos tambahin kerjaan baru, katanya urgent besok pagi harus uda kelar...  (pengangguran) Lima, enam, tujuh... uda lamaran kedelapan ni.. sampe kapan ditolak terus... huftt hidup-hidup, kerja buat sesuap nasi aja susah banget deh ya  (bos)  Malam ini ada meeting, besok pagi uda harus take off keluar kota, lusa balik lagi untuk meeting sama clien. kapan ya hari pensiun tiba? (orang pensiun) Teringat masa muda ketika tenaga masih banyak, waktu masih ada, sekarang berjalanpun aku sulit... memang tinggal tunggu hari saja ... *** Ternyata, hidup manusia itu selalu dipenuhi keluhan ya, di posisi manapun, kita seringkali mengeluh dan merasa tidak puas. Kalau ada satu hari u...

Kejadian di awal tahun 2021: Aku sakit lagi?

Bagiku, 2016 merupakan tahun yang penuh dengan kenangan karena di tahun ini banyak sekali pasang surut gelombang kehidupan yang aku alami. Dalam satu tahun, aku terbang ke dua negara yang berbeda, bukan untuk bertamasya melainkan untuk berobat. Ya, dapat dikatakan tahun ini merupakan tahun "tergelap" bagi kehidupan fisikku. Mengalami penderitaan yang tak kunjung henti, keluar masuk ruang operasi, dan aku pun (dan ibuku) dituntut untuk belajar sabar. Setelah lewat tahun ini, akupun merasa aku sudah lebih dewasa karena berhasil melalui rintangan yang ada. Alhasil, siapa yang menduga gelombang dua penderitaan kini muncul kembali? Ya, ternyata selang 5 tahun, arus penyakit lainpun tiba di hidupku. Tepat satu tahun setelah tahun Covid-19... 2021 adalah tahun penuh harapan bagi banyak orang, tidak asing terdengar dimana-mana bahwa kita semua mengharapkan perubahan. Sudah cukup menderita karena Covid sepanjang tahun 2020. Akan tetapi, tentunya tidak semua harapan kita berjalan semul...

Berapa nilai untuk hari Natal?

Apa makna NATAL bagimu? Natal. Selama tiga belas tahun, saya memaknai natal sebagai satu momen yang indah sebelum menuju tahun baru. Tahun lalu, saya baru mengerti apa itu natal dan kini saya semakin paham akan makna natal itu sendiri. Mungkin banyak orang merayakan natal hanya sebagai sebuah tradisi atau hanya sebatas ikut-ikutan orang. Namun, apakah mereka benar-benar memahami untuk apa natal dirayakan? Kemarin (Kamis), saya baru saja merayakan natal di sekolah. Jujur saja, saya merasakan kebersamaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya di natal sekolah. Awalnya, saya menduga bahwa perayaan natal tidak akan "seheboh" itu. Heboh bukan berarti ada berbagai pernak-pernik natal, artis-artis yang jago nyanyi, dsb. Namun, heboh berarti kami sama-sama saling lebih mengenal, berinteraksi, dan berbagi kebahagiaan natal bersama. Dalam kebersamaan itu, ada satu hal yang menarik perhatian saya, yaitu: kebersamaan dalam kasih. Kasih yang diberikan oleh sang Sumber dan dibagikan ...