Bertemu Tante di Bajaj
Sudah di akhir September, tidak terasa, waktu cepat sekali berjalan. Hari demi hari pun telah kulalui dan semakin hari, jadwalku semakin padat. Banyak kegiatan ini dan itu yang harus kukerjakan, belum lagi ditambah tugas dan ulangan. Untunglah lusa libur, setidaknya aku memiliki waktu untuk beristirahat selama 2 hari. Em.. Biasanya, di masa-masa istirahat ini, aku selalu menyusun jadwal untuk mengisi hari. Namun, seringkali pula jadwalku tidak terlajankan dengan lancar. Tulisan hari ini tidak akan membahas mengenai cara efektif menyusun jadwal atau sebagainya. Sekadar informasi, anggaplah pembukaan ini sebagai intermession sebelum memasuki inti tulisan.
Hari ini, setelah bel pulang sekolah, aku bergegas pulang. Tidak seperti biasanya, hari ini adalah hari termudah mendapatkan angkutan umum. Uniknya, tidak seperti hari biasanya pula, bapak bajaj menawarkan seorang ibu untuk 'sekalian ikut'. Memang benar, ternyata kami memiliki arah tujuan yang sama. Diperjalanan, aku sempat berbicara dengan ibu ini. Ternyata, dia adalah seorang yang aktif di gereja; penuh dengan pelayanan ini dan itu. Seketika, aku kagum padanya. Karena dilihat dari usianya yang sudah tua, ia tidak seharusnya mengisi hari dengan aktivitas yang padat. Setelah ia selesai bercerita mengenai aktivitasnya yang padat, aku pun berkomentar "wah aktivitas tante padet banget yah." Ia pun menjawab dengan senyuman dan jawaban yang tidak terduga "ya, namanya juga pelayanan." Seketika itu, aku sadar bahwa pelayanan adalah sesuatu yang harus dijalankan dengan kesungguhan, bahkan rela menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk melayani. Setelah itu, aku pun mulai berpikir, bagaimana jika pelayanan sang ibu bukanlah pelayanan yang diinginkan Tuhan? Namun, setelah itupun, aku mulai menghapus pikiran negatif itu.
Sebetulnya, ada 1 hal yang kupelajari melalui peristiwa singkat ini. Hubungan antara keseharian, aktivitas dan jenisnya (dalam hal ini pelayanan). Sudah kutuliskan di atas bahwa akhir-akhir ini seiring bergantinya hari, aku mulai dipadati oleh pelbagai aktivitas. Hal ini membuatku lelah dan seringkali, tugas-tugasku tidak menambah sukacita, hanya menambah ilmu. Kegiatanku yang padat tidaklah sebanding dengan sang tante. Namun, aku tetap melihat kesukacitaan pada dirinya. Pelayanan yang tulus menghasilkan buah yang indah, begitupun dengan kegiatan kita. Oleh karena itu, aku kembali diingatkan bahwa alasan ketidaksukacitaanku selama ini dalam mengerjakan tugas bukan karena tugasnya sulit atau banyak, tapi karena aku kurang tulus dalam mengerjakannya. Jadi, itulah refleksiku untuk hari ini. :)
-Happy Tuesday- (22/9/15)
Komentar
Posting Komentar